Rabu, 29 Agustus 2012

this is life


Well.. hidup .. like a roller coaster... ada hari saat saya merasa cukup bersyukur atas semua, namun ada hari saat saya harus berhadapan dengan banyak hal yang begitu menguras pikiran dan perasaan saya.

Kadang saya sangat lelah.. jenuh.. penat atas segala hal yang sungguh tidak saya kehendaki. Ketika saya mulai merasa tenang, saya terima segala kewajiban dan tanggung jawab saya sebagai sesuatu hal yg bukan beban (pikiram ini cukup membantu saya dikala saya mulai merasa jenuh). Namun hal lain ternyata juga telah menunggu untuk menguji saya kembali. Saya dihadapkan pada beberapa hal yang benar2 menguji perasaan saya, keyakinan saya, kesabaran saya... hal ini sungguh berat. Saya bingung... saya takut... saya lelah... bagaimana semua ini harus saya sikapi dengan sebaik mungkin. Saya selalu belajar untuk tenang dalam menghadapi segala hal. Saya tidak mengijinkan rasa gugup menghampiri saya, karena hal ini tidak membantu. Namun saya juga manusia yang kadang tiba pada titik lemah dan ingin mengakhiri semua, entah dengan cara apa.

Harus saya pahami bahwa inilah warna dalam hidup saya. Saya harus bersyukur bahwa hidup saya tidaklah sekadar hitam dan putih, namun pelangi. Saya patut berbangga diri karena buku catatan hidup saya berwarna, entah cerah entah gelap.

Ketika saya berusaha untuk menerima semua, saya sadari bahwa mungkin ini yang terbaik., mungkin Tuhan atur semua ini kepada saya, karena Dia tahu saya masih mampu mengatasinya.. sehingga tidak Dia berikan pada yg lain, yang belum tentu sanggup.

Saya terus belajar dalam hidup ini. Kedewasaan pikiran dan kebijaksaan harus menjadi peran utama ketika benturan2 hidup datang. Paling tidak, saya tidak pantas untuk terus mengeluh sementara masih banyak orang di luar sana yang mungkin jauh merasakan tekanan yg lebih dasyat daripada saya.

Saya patut bersyukur masih memiliki banyak hal yg medukung saya.. entah fasilitas maupun orang2 dlm lingkungan saya. Saya tidak sepatutnya mengecewakan mereka hanya karena egoisme perasaan saya sendiri. Saya harus terus maju dan melakukan yang terbaik, agar semua hal yg sudah diberikan pada saya tidaklah sia2., Saya harus terus menjadi pembangga bagi orang2 di lingkungan saya. Senyum mereka adalah jawaban keberhasilan saya.

Sabtu, 28 Februari 2009

Di Belakang Setiap Pria Hebat Selalu Ada Wanita Hebat


Di belakang Setiap Pria Hebat Selalu Ada Wanita Hebat


Thomas Wheeler, CEO Massachusetts Mutual Life Insurance Company. Pada suatu hari, Thomas dan istrinya sedang menyusuri jalan raya antarnegara bagian, ketika menyadari bensin mobilnya nyaris habis. Wheeler segera keluar dari jalan raya bebas hambatan itu dan tak lama kemudian menemukan pompa bensin yang sudah bobrok dan hanya punya satu mesin pengisi bensin. Setelah menyuruh satu-satunya petugas di situ untuk mengisi mobilnya dan mengecek oli, dia berjalan-jalan memutari pompa bensin itu untuk melemaskan kaki. Ketika kembali ke mobil, dia melihat petugas itu sedang asyik mengobrol dengan istrinya. Obrolan mereka langsung berhenti ketika dia membayar si petugas. Tetapi ketika hendak masuk ke mobil, dia melihat petugas itu melambaikan tangan dan dia mendengar orang itu berkata, “Asyik sekali mengobrol denganmu.” Setelah mereka meninggalkan pompa bensin itu, Wheeler bertanya kepada istrinya apakah dia kenal lelaki itu. Istrinya langsung mengiyakan. Mereka pernah satu sekolah di SMA dan pernah pacaran kira-kira setahun. “Astaga, untung kau ketemu aku,” Wheeler menyombong. “Kalau kau menikah dengannya, kau jadi istri petugas pompa bensin, bukan istri direktur utama.” “Sayangku,” jawab istrinya, “Kalau aku menikah dengannya, dia yang akan menjadi direktur utama dan kau yang akan menjadi petugas pompa bensin.”

Ada Seseorang Menjagaku


Ada Seseorang Menjagaku

by Sharon Wajda


Para penumpang bus memandang penuh simpati ketika
wanita muda berpenampilan menarik dan bertongkat putih
itu dengan hati-hati menaiki tangga. Dia membayar sopir
bus lalu, dengan tangan meraba-raba kursi, dia berjalan
menyusuri lorong sampai menemukan kursi yang tadi dikatakan
kosong oleh si sopir. Kemudian dia duduk, meletakkan
tasnya di pangkuannya dan menyandarkan tongkatnya
pada tungkainya.


Setahun sudah lewat sejak Susan, tiga puluh empat,
menjadi buta. Gara-gara salah diagnosa dia kehilangan
penglihatannya dan tiba-tiba terlempar ke dunia yang gelap
gulita, penuh amarah, frustrasi, dan rasa kasihan pada
diri sendiri. Sebagai wanita yang sangat independen, Susan
merasa terkutuk oleh nasib mengerikan yang membuatnya
kehilangan kemampuan, tak berdaya, dan menjadi beban
bagi semua orang di sekelilingnya. “Bagaimana mungkin
ini bisa terjadi padaku?” dia bertanya-tanya, hatinya mengeras karena marah. Tetapi, betapa pun seringnya dia
menangis atau menggerutu atau berdoa, dia mengerti kenyataan
yang menyakitkan itu—penglihatannya takkan
pernah pulih lagi.


Depresi mematahkan semangat Susan yang tadinya selalu
optimis. Mengisi waktu seharian kini merupakan perjuangan
berat yang menguras tenaga dan membuatnya
frustrasi. Dia menjadi sangat bergantung kepada Mark,
suaminya.


Mark seorang perwira Angkatan Udara. Dia mencintai
Susan dengan tulus. Ketika istrinya baru kehilangan penglihatannya,
dia melihat bagaimana Susan tenggelam dalam
keputusasaan. Mark bertekad untuk membantunya menemukan
kembali kekuatan dan rasa percaya diri yang dibutuhkan
Susan untuk menjadi mandiri lagi. Latar belakang
militer Mark membuatnya terlatih untuk menghadapi berbagai
situasi darurat, tetapi dia tahu, ini adalah pertempuran
paling sulit yang pernah dihadapinya.


Akhirnya, Susan merasa siap bekerja lagi. Tetapi, bagaimana
dia akan bisa sampai ke kantornya? Dulu Susan biasa
naik bus, tetapi sekarang terlalu takut untuk pergi ke kota
sendirian. Mark menawarkan untuk mengantarkannya setiap
hari, meskipun tempat kerja mereka terletak di pinggiran
kota yang berseberangan. Mula-mula, kesepakatan
itu membuat Susan nyaman dan Mark puas karena bisa
melindungi istrinya yang buta, yang tidak yakin akan bisa
melakukan hal-hal paling sederhana sekalipun. Tetapi,
Mark segera menyadari bahwa pengaturan itu keliru—
membuat mereka terburu-buru, dan terlalu mahal. Susan
harus belajar naik bus lagi, Mark menyimpulkan dalam hati.
Tetapi, baru berpikir untuk menyampaikan rencana itu
kepada Susan telah membuatnya merasa tidak enak. Susan
masih sangat rapuh, masih sangat marah. Bagaimana
reaksinya nanti?
Persis seperti dugaan Mark, Susan ngeri mendengar
gagasan untuk naik bus lagi. “Aku buta!” tukasnya dengan
pahit. “Bagaimana aku bisa tahu ke mana aku pergi? Aku
merasa kau akan meninggalkanku.”
Mark sedih mendengar kata-kata itu, tetapi dia tahu apa
yang harus dilakukan. Dia berjanji bahwa setiap pagi dan
sore dia akan naik bus bersama Susan, selama masih diperlukan,
sampai Susan hafal dan bisa pergi sendiri.
Dan itulah yang terjadi.

Selama dua minggu penuh Mark, mengenakan seragam militer lengkap, mengawal
Susan ke dan dari tempat kerja, setiap hari. Dia mengajari
Susan bagaimana caranya menggantungkan diri pada
indranya yang lain, terutama pendengarannya, untuk menentukan
di mana dia berada dan bagaimana beradaptasi
dengan lingkungan yang baru. Dia menolong Susan berkenalan
dan berkawan dengan sopir-sopir bus yang dapat
mengawasinya dan menyisakan satu kursi kosong untuknya.
Dia membuat Susan tertawa, bahkan pada hari-hari yang
tidak terlalu menyenangkan ketika Susan tersandung waktu
turun dari bus, atau menjatuhkan tasnya yang penuh
berkas di lorong bus.
Setiap pagi mereka berangkat bersama-sama, setelah itu
Mark akan naik taksi ke kantornya. Meskipun pengaturan
itu lebih mahal dan melelahkan daripada yang pertama,
Mark yakin bahwa hanya soal waktu sebelum Susan mampu
naik bus tanpa dikawal. Mark percaya kepadanya, percaya
kepada Susan yang dulu dikenalnya sebelum wanita
itu kehilangan penglihatannya; wanita yang tidak pernah
takut menghadapi tantangan apa pun dan tidak akan pernah
menyerah.


Akhirnya, Susan memutuskan bahwa dia siap untuk
melakukan perjalanan itu seorang diri. Tibalah hari Senin.
Sebelum berangkat, Susan memeluk Mark yang pernah
menjadi kawannya satu bus dan sahabatnya yang terbaik.
Matanya berkaca-kaca, penuh air mata syukur karena kesetiaan,
kesabaran, dan cinta Mark. Dia mengucapkan
selamat berpisah. Untuk pertama kalinya mereka pergi ke
arah yang berlawanan.


Senin, Selasa, Rabu, Kamis… Setiap hari dijalaninya
dengan sempurna. Belum pernah Susan merasa sepuas itu.
Dia berhasil! Dia mampu berangkat kerja tanpa dikawal.
Pada hari Jumat pagi, seperti biasa Susan naik bus ke
tempat kerja. Ketika dia membayar ongkos bus sebelum
turun, sopir bus itu berkata, “Wah, aku iri padamu.”
Susan tidak yakin apakah sopir itu bicara kepadanya
atau tidak; Lagi pula, siapa yang bisa iri pada seorang
wanita buta yang sepanjang tahun lalu berusaha menemukan
keberanian untuk menjalani hidup? Dengan penasaran,
dia bertanya kepada sopir itu, “Kenapa kau bilang
kau iri padaku?”
Sopir itu menjawab, “Kau pasti senang selalu dilindungi
dan dijagai seperti itu.”
Susan tidak tahu apa maksud sopir itu. Sekali lagi dia
bertanya, “Apa maksudmu?”
“Kau tahu, minggu kemarin, setiap pagi ada seorang
pria tampan berseragam militer berdiri di sudut jalan dan
mengawasimu waktu kau turun dari bus. Dia memastikan
bahwa kau menyeberang dengan selamat dan dia mengawasimu
terus sampai kau masuk ke kantormu. Setelah itu
dia meniupkan ciuman, memberi hormat ala militer, lalu
pergi. Kau wanita yang beruntung,” kata sopir itu.


Air mata bahagia membasahi pipi Susan. Karena meskipun
secara fisik tidak dapat melihat Mark, dia selalu bisa
merasakan kehadirannya. Dia beruntung, sangat beruntung,
karena Mark memberinya hadiah yang jauh lebih berharga
daripada penglihatan, hadiah yang tak perlu dilihatnya dengan
matanya untuk meyakinkan diri—hadiah cinta yang
bisa menjadi penerang di mana pun ada kegelapan.